Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Tingginya harga jual dan beli cabai merah besar beberapa tahun terakhir yang sampai pada kisaran Rp 20.000–Rp 40.000/kg pada bulan Juli–Agustus tahun 2010, menyebabkan tanaman tersebut masuk dalam agenda pembicaraan nasional. Cabai merah (Capsicum annuum L.) memiliki potensi sebagai jenis sayuran buah untuk dikembangkan karena cukup penting peranannya baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional maupun komoditas ekspor. Dengan makin beragamnya kebutuhan manusia dan makin berkembangnya teknologi obat-obatan, kosmetik, zat warna, pencampuran minuman dan lainnya, maka kebutuhan bahan baku cabai merah akan terus meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan potensi tanaman cabai itu sendiri, produksi tanaman sebanyak 19-20,5 kw/ha tergolong rendah. Rendahnya produksi disebabkan banyak faktor. Beberapa diantaranya berkaitan dengan kualitas benih, teknik budidaya dan populasi tanaman (Nawangsih, et. al., 2001). Penggunaan pupuk organik salah satunya yaitu mikoriza dalam penanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan terobosan di bidang pertanian.
Mikoriza secara harfiah berarti jamur-akar. Dalam konteks ini mikoriza merupakan hubungan simbiotik dan mutualistik (menguntungkan kedua belah pihak) antara jamur nonpatogen dengan sel-sel akar yang hidup, terutama sel epidermis dan korteks. Jamur memperoleh senyawa organik (terutama gula) dari tanaman, sedangkan tanaman memperoleh keuntungan karena penyerapan unsur hara dan air dapat berlangsung lebih baik. Bagian sistem perakaran yang terinfeksi adalah bagian akar yang masih muda (Lakitan, 2004: 75).
Sebagaimana dikemukakan oleh Nawangsih, et. al. (2001) peran utama mikoriza yaitu mampu mentranslokasikan fosfor dari tanah kedalam tanaman dengan membentuk hifa yang tumbuh pada akar tanaman dan berfungsi sebagai perluasan permukaan serapan akar, sehingga pertumbuhan tanaman bermikoriza lebih baik dibandingkan tanaman tanpa mikoriza.
Berdasarkan hasil penelitian yang ada sampai sekarang, jamur mikoriza berpotensi memfasilitasi penyediaan berbagai unsur hara bagi tanaman terutama P. Perbaikan pertumbuhan dan kenaikan hasil berbagai tanaman berkaitan dengan perbaikan nutrisi P tanaman. Di samping sebagai fasilitator penyerapan hara, jamur mikoriza juga berpotensi sebagai pengendali hayati. Pada umumnya tanaman bermikoriza mengalami kerusakan lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman tidak bermikoriza dan serangan penyakit berkurang atau perkembangan patogen dihambat (Simanungkalit, 1999).
Pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan, serapan P dan hasil tanaman dipengaruhi oleh jenis dan varietas tanaman, jenis mikoriza, dan kondisi tanah serta interaksi antara ketiganya (Brundrett, et. al. 1996). Kompatibilitas mikoriza dan tanaman inang sangat penting karena akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Pada umumnya mikoriza diklasifikasikan menjadi tiga kelompok penting yaitu ektomikoriza, endomikoriza, dan ektendomikoriza (Supriyanto, et. al. 2009). Cendawan endomikoriza adalah tipe mikoriza yang paling umum, menurut Harley dan Smith (Supriyanto, et. al. 2009) adalah cendawan yang dapat bersimbiosis dengan berbagai tanaman inang yang termasuk dalam taksa Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta. Glomus aggregatum, Glomus fasciculatum, dan Glomus mosseae berada dalam genus Glomus dan termasuk dalam kelompok endomikoriza yang dimungkinkan dapat diinokulasikan pada cabai merah (Capsicum annuum L.), karena cabai merah termasuk tumbuhan Spermatophyta.
Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah Indonesia yaitu pertanian yang berwawasan lingkungan, efisiensi penggunaan energi dan isue Back To Nature (kembali ke alam) serta sejalan dengan konsep Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism), maka pemanfaatan bioteknologi tanah (pemanfaatan jasa mikroba tanah) untuk meningkatkan produksi tanaman khususnya cabai merah serta mempertahankan produktivitas lahan merupakan suatu alternatif yang perlu diteliti dan dikaji secara seksama.
Pertumbuhan tanaman merupakan interaksi antara akar dan organ bagian atas tanaman dengan lingkungannya. Zona perakaran disebut rhizosfer yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Populasi mikroba yang bermanfaat perlu ditingkatkan dengan cara memanipulasi lingkungan rhizosfer dan dengan menambahkan populasi mikroba bermanfaat ke media yang di kenal sebagai inokulasi. Mikroorganisme yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman salah satunya adalah mikoriza.
Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman (Brundrett, et. al. 1996). Simbiosis ini bersifat mutualistik karena jamur mendapatkan karbohidrat dari tanaman dimana aliran nutrisi diregulasi oleh tanaman inang. Fotosintat tanaman inang diabsorpsi jamur, khususnya pada arbuskula yang mempunyai luas permukaan kontak yang besar antara jamur dengan tanaman inang. Prinsip kerja mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara.
Peranan penting mikoriza dalam pertumbuhan tanaman adalah kemampuannya untuk menyerap unsur hara baik makro (N, P, K, Ca, Mg, S) maupun mikro (Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl). Selain itu akar yang mempunyai mikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman. Hifa eksternal pada mikoriza dapat menyerap unsur fosfat dari dalam tanah, dan segera diubah menjadi senyawa polifosfat. Senyawa polifosfat kemudian dipindahkan ke dalam hifa dan dipecah menjadi fosfat organik yang dapat diserap oleh sel tanaman. Sebagaimana dikemukakan oleh Karama, et. al. (Zulaiha dan Gunawan, 2006) bahwa bila tanaman kahat fosfor maka sebagian besar fosfat terkonsentrasi dalam akar dan pertumbuhan bagian tanaman di atas tanah menjadi terhambat. Hal ini karena fosfat merupakan unsur yang penting dalam serangkaian proses fotosintesis. Apabila tanaman kahat fosfor maka hasil fotosintesis yang berupa glukose tidak dapat disintesis menjadi sukrose dan diedarkan ke suluruh bagian tanaman melalui floem sehingga pertumbuhan terhambat.
Efektif tidaknya setiap jenis inokulan mikoriza yang diberikan pada tanaman tergantung pada spesies mikoriza, jenis tanaman, jenis dan keadaan tanah serta interaksi antara ketiganya (Brundrett, et. al. 1996). Jumlah spora juga mempengaruhi persentase derajat infeksi akar. Mayerni dan Hervani (2008) melaporkan bahwa perkembangan dan kepadatan spora secara positif berkorelasi dengan peningkatan kolonisasi akar sehingga penyerapan unsur hara lebih baik dan akan mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut Supriyanto (Kepala Laboratorium Silvikultur Seameo-Biotrop), secara umum penggunaan dosis inokulan mikoriza adalah antara 5-10 gr per-tanaman.
Tanaman cabai dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Subkelas : Sympetalae
Ordo : Tubiflorae
Family : Solanaceae
Genus : Capsicum
Species : Capsicum annuum L.
(Tjitrosoepomo, 1991)
Tanaman cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu. Tinggi tanaman 50-120 cm dan mempunyai banyak cabang dan dari setiap cabang akan tumbuh bunga atau buah. Akar tanaman cabai menyebar, tetapi dangkal. Akar-akar cabang dan rambut-rambut akar banyak terdapat dipermukaan tanah, semakin ke dalam akar-akar tersebut semakain berkurang. Ujung akar tanaman cabai hanya dapat menembus tanah sedalam 30-40 cm. Akar horizontal cepat berkembang di dalam tanah, menyebar dengan kedalaman 10-15 cm (Tjahjadi, 1991).
Batang utama cabai tegak dan pangkalnya berkayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan berwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan mencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan.
Daun cabai berbentuk lonjong dan bagian ujungnya meruncing dengan panjang daun 14-10 cm, lebar 1,5-4 cm. Menurut Nawangsih, et. al. (2001), daun terdiri atas tangkai, tulang dan helaian daun. Panjang tangkai daun antara 1-5 cm. Tangkai daun berkembang sekaligus sebagai tulang daun. Tulang daun berbentuk menyirip dilengkapi urat daun. Helaian daun bagian bawah berwarna hijau terang, sedangkan permukaan atasnya berwarna hijau tua.
Bunga cabai berkelamin dua (hermafrodit), dalam satu bunga terdapat perlengkapan alat kelamin jantan dan betina. Posisi bunga cabai biasanya menggantung dengan warna mahkota bunga putih dan memiliki 5-6 kelopak bunga. Panjang bunga 1,5 cm lebarnya 0,5 cm dan panjang bunga 1-2 cm. Pangkal putik berwarna putih, panjangnya 0,5 cm. Warna kepala putik kuning kehijauan. Tangkai sari putih, tetapi yang dekat dengan kepala sari ada bercak kecoklatan. Panjang tangkai sari 0,5 cm. Kepala sarinya berwarna biru atau ungu (Tjahjadi, 1991).
Buah cabai merupakan buah buni berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengkilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Sedangkan untuk bijinya, biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa buahnya yang pedas dapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetap membutuhkannya untuk menambah nafsu makan.
Secara fisiologis tanaman cabai merah menurut Nawangsih et. al. (1999: 49-50) dapat dibagi menjadi empat fase, ke-empat fase tersebut adalah sebagai berikut :
1. Fase Embrionis (Lembaga)
Fase embrionis terjadi sejak penyerbukan bakal buah oleh benang sari sehingga menghasilkan zigot yang seterusnya berkembang menjadi biji. Mulai tahap inilah pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung.
2. Fase Juvenil
Fase juvenil dimulai sejak terbentuknya organ tanaman seperti daun, batang, dan akar yang pertama kalinya. Proses ini dikenal dengan perkecambahan. Fase juvenil berakhir pada waktu tanaman berbunga untuk pertama kali. Tanaman cabai yang berada dalam fase pertumbuhan juvenil aktif menumbuhkan tunas-tunas baru. Tunas tumbuh pada buku-buku batang utama dan pada ketiak daun. Pada fase ini tanaman tumbuh dan berkembang lebih cepat dan sangat subur.
3. Fase Produksi
Fase produksi dimulai saat tanaman menumbuhkan bunga pertama dan berakhir ketika tanaman sudah tidak mampu berbuah secara normal.
4. Fase Penuaan (senil)
Batasan dimulai fase penuaan sulit dipastikan secara tepat karena sampai batas waktu tertentu tanaman masih mampu menghasilkan bunga yang dapat berkembang menjadi buah. Namun demikian, ini dapat dihasilkannya bila tanaman cabai menghasilkan buah berukuran dibawah normal, berarti tanaman sudah berada pada fase penuaan. Fase penuaan berakhir pada saat tanaman kering dan mati.
Syarat Tumbuh Cabai Merah (Capsicum annuum L.).
Syarat Tumbuh Cabai Merah (Capsicum annuum L.).
1. Jenis Tanah
Tanah yang paling sesuai untuk tanaman cabai merah (terutama cabai hibrida) adalah tanah yang bertekstur remah, gembur tidak terlalu liat, dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah yang terlalu liat kurang baik karena sulit diolah, drainasenya jelek, pernafasan akar tanaman dapat terganggu dan dapat menyulitkan akar dalam mengadopsi unsur hara. Tanah yang terlalu poros/banyak pasir juga kurang baik, karena mudah tercucinya pupuk oleh air. Penambahan pupuk kandang 20-25 ton/ha dapat memperbaiki tanah terlalu liat atau terlalu poros.
Tanah yang mengandung unsur hara yang optimum serta terbebas dari unsur-unsur toksik bisa dikatakan mempunyai kesuburan kimia, tetapi bukan itu saja kesuburan fisik yang meliputi keadaan air, oksigen, suhu tanah, dan ukuran pori tanah harus selalu seimbang dan optimum sehingga menjadikan keadaan tanah tersebut optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Supriyanto, et. al. 1999).
2. Derajat Keasaman Tanah (pH)
Derajat keasaman tanah yang sesuai adalah berkisar antara pH 5,5-6,8 dengan pH optimum 6,0-6,5. Cendawan berkembang pada hampir semua tingkatan pH, cendawan penyebab layu Fusarium dan cendawan penyebab rebah kecambah seperti Rhizoctoma sp, Phythium sp. berkembang baik pada tanah-tanah asam. Cendawan yang hidup pada pH>5,5 kehidupannya bersaing dengan bakteri, karena bakteri berkembang baik pada pH>5,5. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur pertanian pada pH rendah dan belerang (S) pada pH tinggi.
3. Air
Air berfungsi sebagai pelarut dan pengangkut unsur hara ke organ tanaman, air berperan dalam proses fotosintesis (pemasakan makanan) dan proses respirasi (pernafasan). Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang bersih yang membawa mineral atau unsur hara yang dibutuhkan tanaman, bukan air yang berasal dari suatu daerah penanaman cabai yang terserang penyakit, karena air ini dapat menyebabkan tanaman cabai yang sehat akan segera tertular, dan bukan air yang berasal dari limbah pabrik yang berbahaya bagi tanaman cabai.
4. Iklim
Faktor iklim yang penting dalam usaha budidaya cabai merah adalah angin, curah hujan, cahaya matahari, suhu dan kelembaban. Angin sepoi-sepoi akan membawa uap air dan melindungi tanaman dari terik matahari sehingga penguapan yang berlebihan akan berkurang. Selain lebah, angin juga berperan penting sebagai perantara penyerbukan, namun angin yang kencang justru akan merusak tanaman. Curah hujan yang diperlukan adalah 1500-2500 mm/tahun. Tanaman dapat tumbuh dan berproduksi baik pada iklim A, B, C, dan D (tipe iklim menurut Schmid dan Ferguson).
Kelembaban relatif yang diperlukan 80% dan sirkulasi udara yang lancar. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan bunga tidak terserbuki dan banyak rontok. Lamanya penyinaran (foto periodisitas) yang dibutuhkan tanaman cabai antara 10-12 jam/hari, intensitas cahaya ini dibutuhkan untuk fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukan buah dan pemasakan buah. Suhu untuk perkecambahan benih paling baik antara 25-30 0C. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 24-28 0C. Pada suhu <150C>32 0C buah yang dihasilkan kurang baik, suhu yang terlalu dingin menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, pembentukan bunga kurang sempurna, dan pemasakan buah lebih lama.
Taksonomi dan Morfologi Mikoriza
Nama mikoriza berasal dari bahasa Yunani yaitu Mikos (Cendawan/fungi) dan Rhyza (akar), yang berarti cendawan akar. Sebagaimana dikemukakan oleh Harley dan Smith (Moses, 2000: 5) bahwa istilah mikorhiza pertama kali dikemukakan oleh Frank (1885) untuk menggambarkan suatu hubungan simbiosis antara jamur/fungi dengan akar tumbuhan.
Sebagaimana dikemukakan oleh Smith and Read (Purnomo, 2008) bahwa bentuk struktur khas mikoriza dapat dibedakan berdasarkan cara infeksinya pada perakaran tanaman inang, yaitu (1) endomikoriza, merupakan struktur mikoriza yang terbentuk sampai kedalam sel korteks akar, (2) ektomikoriza, merupakan struktur mikoriza pada lapisan luar akar yang bentuknya berupa jala hartig; dan (3) ektendomikoriza, merupakan struktur mikoriza yang tidak hanya dapat membentuk jala hartig dipermukaan akar, tetapi dapat menembus sel korteks.
Endomikoriza mempunyai arbuskula dan pada beberapa genus mempunyai vesikula. Arbuskula yaitu menyerupai struktur pohon kecil dari percabangan hifa berfungsi sebagai tempat pertukaran metabolit antara jamur dan tanaman. Arbuskula merupakan tempat pertukaran metabolit antara jamur dan tanaman. Adanya arbuskula sangat penting untuk mengidentifikasi bahwa telah terjadi infeksi pada akar tanaman (Delvian, 2006). Vesikula berbentuk globose berasal dari menggelembungnya hifa jamur mikoriza fungsinya sebagai organ penyimpan makanan dan sebagai propagul (organ reproduktif).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama biologi molekuler telah mengubah sistem klasifikasi endomikoriza. Hasil revisi klasifikasi fungi mikoriza arbuskula yang didasarkan pada morfologi spora dan DNA ditemukan tujuh genus pembentuk arbuskular yang diklasifikasikan dalam Ordo Glomales/Glomeromycota oleh INVAM (Wilarso, 2009), sebagaimana tertera pada gambar 2. Glomus aggregatum, Glomus fasciculatum, dan Glomus mosseae dalam taksonominya diklasifikasikan sebagai berikut :
Filum : Zygomycota
Ordo : Glomeromycota
Sub-ordo : Glomineae
Famili : Glomaceae
Genus : Glomus
Spesies : Glomus aggregatum; Glomus fasciculatum; Glomus
mosseae
Peranan Mikoriza
1. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara
Adanya fungi mikoriza sangat penting bagi ketersediaan unsur hara seperti P, Mg, K, Fe dan Mn untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini terjadi melalui pembentukan hifa pada permukaan akar yang berfungsi sebagai perpanjangan akar terutama di daerah yang kondisinya miskin unsur hara, pH rendah dan kurang air. Akar tanaman bermikoriza ternyata meningkatkan penyerapan seng dan sulfur dari dalam tanah lebih cepat daripada tanaman yang tidak bermikoriza (Abbot dan Robson, 1984). Beberapa studi tentang peranan mikoriza (Setiadi, 2001; Lakitan, 2004) menunjukan bahwa manfaat fungi mikoriza ini secara nyata terlihat jika kondisi tanahnya miskin hara atau kondisi kering, sedangkan pada kondisi tanah yang subur peran fungi ini tidak begitu nyata.
Inokulasi mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman, karena mikoriza dengan hifa eksternal, selain dapat memperluas jangkauan rambut akar yang berarti memperluas daerah penyerapan, juga dapat menembus daerah penipisan nutrien (zone of nutrient depletion) yang terdapat di sekitar perakaran dan menyerap unsur hara dari daerah tersebut. Hal ini karena diameter hifa mikoriza yang relatif kecil (rata-rata berukuran 2-5 μm) sehingga mudah menerobos pori-pori tanah yang tidak dapat ditembus oleh rambut-rambut akar. Sebagaimana dikemukakan oleh Fakuara dan Setiadi (Zulaikha dan Gunawan, 2006) bahwa mikoriza juga menghasilkan enzim fosfatase yang mampu mengkatalis hidrolisis komplek fosfat tidak larut yang terdapat di dalam tanah menjadi bentuk fosfat larut yang tersedia bagi tanaman. Selanjutnya fosfat larut ini dengan cepat akan diserap langsung oleh hifa eksternal mikoriza dan kemudian ditransfer ke tanaman inang. Dengan demikian tanaman yang diinokulasi mikoriza mempunyai kemampuan untuk menyerap fosfat yang terikat dalam tanah dan fosfat dari pupuk, sehingga penyerapan P menjadi lebih besar dibanding tanaman yang tidak diinokulasi mikoriza. Fosfat merupakan unsur essensial yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak. Sebagaimana dikemukakan oleh Karama, et. al (Zulaikha dan Gunawan, 2006) bahwa bila tanaman kahat fosfor maka sebagian besar fosfat terkonsentrasi dalam akar dan pertumbuhan bagian tanaman di atas tanah menjadi terhambat. Hal ini karena fosfat merupakan unsur yang penting dalam serangkaian proses fotosintesis. Apabila tanaman kahat fosfor maka hasil fotosintesis yang berupa glukose tidak dapat disintesis menjadi sukrose dan diedarkan ke suluruh bagian tanaman melalui floem sehingga pertumbuhan terhambat.
2. Meningkatkan Ketahanan Tanaman terhadap Kekeringan
Peran fungi mikoriza arbuskula sebetulnya secara tidak langsung meningkatkan ketahanan terhadap kadar air yang ekstrim. Cendawan mikoriza dapat mempengaruhi kadar air tanaman inang (Morte, et. al, 2000). Ada beberapa dugaan tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan, antara lain :
Peran fungi mikoriza arbuskula sebetulnya secara tidak langsung meningkatkan ketahanan terhadap kadar air yang ekstrim. Cendawan mikoriza dapat mempengaruhi kadar air tanaman inang (Morte, et. al, 2000). Ada beberapa dugaan tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan, antara lain :
1. Adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transpor air ke akar meningkat.
2. Peningkatan status P tanaman sehingga daya tahan tanaman terhadap kekeringan meningkat. Tanaman yang mengalami kahat P cenderung peka terhadap kekeringan.
3. Pertumbuhan yang lebih baik serta ditunjang adanya hifa eksternal cendawan yang dapat menjangkau air jauh ke dalam tanah sehingga tanaman dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan (Auge, 2001).
4. Pengaruh tidak langsung karena adanya hifa eksternal yang menyebabkan mikoriza efektif dalam mengagregasi butir tanah sehingga kemmpuan tanah menyimpan air meningkat.
3. Memperbaiki Struktur Tanah
Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida, asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap.
Wright dan Upadhyaya (Delvian, 2005) menyatakan bahwa mikoriza mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman, tapi juga bagi tanah.
4. Sebagai Pelindung Hayati(Bioprotektor) dari patogen dan unsur toksik
Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Imas, et. al. (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen.
2. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya, sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen.
3. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen.
4. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza, tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi.
Sebagaimana dikemukakan oleh Killham (Delvian, 2005) bahwa mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi, menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan.
5. Memproduksi Hormon dan Zat Pengatur Tumbuh
Cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon pertumbuhan seperti sitokinin, giberelin, dan juga vitamin pengatur tumbuh lainnya.
Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan Spora Mikoriza
Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan Spora Mikoriza
Keberadaan spora mikoriza dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya, dan pH tanah.
1. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap infeksi yakni pada perkembangan spora, penetrasi hifa pada sel akar dan perkembangan pada korteks akar, selain itu suhu juga berpengaruh pada ketahanan dan simbiosis. Semakin tinggi suhu semakin besar terbentuknya kolonisasi dan meningkatnya produksi spora. Schenk dan Schroder (1974) menyatakan bahwa suhu terbaik untuk perkembangan arbuskula yakni pada suhu 30oC tetapi untuk koloni miselia terbaik berada pada suhu 28–34oC, sedangkan perkembangan bagi vesikula pada suhu 35oC. Glomus mosseae berkecambah pada suhu optimum 20oC.
Suhu berpengaruh pada perkecambahan spora mikoriza. Hal itu dimungkinkan lebih disebabkan oleh secara genetis ada perbedaan ketahanan enzim masing-masing spesies mikoriza terhadap suhu.
2. Kelembaban
Kelebihan air akan mendesak oksigen keluar dari dalam spora, yang kemudian oksigen yang merupakan unsur penting diperlukan dalam perkecambahan menjadi tidak tersedia, yang mengakibatkan spora tidak berkecambah. Sebaliknya kekurangan air mengakibatkan tidak berlangsung proses perkecambahan karena air selain merupakan komponen dasar pembentukan zat makanan, air juga berfungsi membantu mengedarkan nutrisi ke bagian jaringan yang aktif membelah dan sebagai media berlangsungnya reaksi enzimatik proses perkecambahan spora.
Kandungan air tanah dapat berpengaruh baik secara langsung atau tidak langsung terhadap infeksi dan pertumbuhan fungi mikoriza. Pengaruh secara langsung tanaman bermikoriza dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air. Sedangkan pengaruh tidak langsung karena adanya miselia eksternal menyebabkan fungi mikoriza efektif dalam mengagregasi butir-butir tanah, kemampuan tanah menyerap air meningkat. Penjenuhan air tanah yang lama berpotensi mengurangi pertumbuhan dan infeksi fungi mikoriza karena kondisi yang anaerob.
3. Cahaya
Adanya naungan yang berlebihan terutama untuk tanaman yang senang cahaya dapat mengurangi infeksi akar dan produksi spora, selain itu respon tanaman terhadap fungi mikoriza akan berkurang. Hal ini disebabkan adanya hambatan pertumbuhan dan perkembangan internal hifa dalam akar yang berakibat terbatasnya perkembangan eksternal hifa pada rizosfer (Setiadi, 2001).
4. pH Tanah
Fungi mikoriza pada umumnya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Meskipun demikian adaptasi masing-masing spesies fungi mikoriza terhadap pH tanah berbeda-beda, karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan, perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Maas dan Nieman, 1978).
pH optimum untuk perkembangan fungi mikoriza berbeda-beda tergantung pada adaptasi fungi mikoriza terhadap lingkungan. pH dapat berpengaruh langsung terhadap aktivitas enzim yang berperan dalam perkecambahan spora fungi mikoriza. Misalnya Glomus mosseae biasanya pada tanah alkali dapat berkecambah dengan baik pada air atau pada soil extract agar pada pH 6,0-9,0.
Assalamualaikum Wr Wb,, Mas Denu saya Nowa,, mahasiswa IPB,, mau tanya,Jurnal dari Nawangsih tentang 4 fase tanaman cabai masih ada atau tidak?? kalau ada boleh saya minta tolong kirimkan ke email saya untuk keperluan penelitian,,saya sudah cari itu dimana-mana tidak ketemu,, terima kasih sebelumnya
BalasHapus